BACA GRATIS: Prolog + Free Chapter | The Allister Verdict 🍷

 

PROLOG

Seoul, 02:00 AM.

Hujan mengguyur kaca-kaca tebal di lantai tertinggi Allister Tower. Di dalam ruangan bernuansa monokrom itu, keheningan terasa mencekam. Jayden Christian Allister berdiri tegak, memutar gelas kristal berisi minuman keras di tangannya. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah gemerlap lampu kota Seoul.

"Orangtua ku mati di atas takhta ini, Raymond," suara Jayden bergetar rendah, nyaris menyerupai bisikan badai. "Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merebut apa yang tersisa dari darah mereka. Termasuk seorang wanita dari Oceane Group."

Di distrik yang berbeda, di dalam studio megah yang hanya diterangi lampu temaram, Rhea Oceane Ivelle menarik napas dalam-dalam. Jemarinya yang dihiasi cat kuku merah darah mengetuk meja marmer, tepat di atas selembar foto buram wajah Jayden.

"Kau pikir kau adalah hakim di kota ini, Jayden?" Rhea tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh racun yang mematikan. "Kau salah. Aku kembali bukan untuk meminta keadilan atas kematian orang tuaku. Aku kembali untuk menjatuhkan putusanmu."

Malam itu, di dalam jaringan rahasia yang dikenal sebagai The Syndicate, dua nama besar terdaftar untuk saling berhadapan. Tanpa ada orang tua yang melindungi, tanpa ada ruang untuk kesalahan. The Allister Verdict telah resmi dimulai, dan lantai dansa korporasi ini siap berlumuran darah. 



****

FREE CHAPTER

Malam peresmian proyek energi baru Allister Empire mengubah Grand Ballroom The Shilla Seoul menjadi episentrum kekuasaan tertinggi di Korea Selatan. Kilatan lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit setinggi sepuluh meter memantulkan pendar emas ke atas lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengkilap seperti cermin. Ratusan konglomerat, menteri, dan sosialita kelas atas bergerak dalam koreografi yang anggun namun penuh kepalsuan—saling melempar senyum manis sembari menyembunyikan belati ambisi di balik gaun haute couture dan setelan tuksedo mereka.

Di sudut ruangan yang agak tinggi, Jayden Christian Allister berdiri dengan dominasi yang tak terbantahkan. Ia mengenakan tuksedo hitam potongan custom-tailored berkerah selendang sutra, dipadukan dengan kemeja putih kaku dan dasi kupu-kupu hitam yang sempurna. Tangan kanannya memutar pelan gelas kristal berisi wiski berumur tiga puluh tahun, sementara mata gelapnya mengawasi ruangan dengan tatapan predator yang sedang memantau wilayah perburuannya.

Raymond Sebastian Mayers berdiri satu langkah di sampingnya, memegang segelas sampanye tanpa berniat meminumnya. "Hampir seluruh pemegang saham mayoritas dari sektor publik sudah hadir, Jayden. Proyek energi ini resmi menjadi magnet bursa saham terbesar tahun ini. Sentimen pasar sangat positif."

"Aku tidak peduli dengan sentimen mereka, Raymond," sahut Jayden, suaranya berat dan mendingin, memotong kebisingan latar belakang dengan keotoriteran yang alami. "Aku hanya butuh mereka tetap menyuntikkan dana tanpa banyak bertanya. Di mana Bryan?"

"Bryan berada di ruang kendali siber hotel ini, memantau perimeter digital. Dia memastikan tidak ada satupun jalur komunikasi yang bisa disadap pihak luar selama acara berlangsung," jawab Raymond dengan anggukan profesional.

Jayden tidak merespons lagi. Perhatiannya mendadak teralih ketika pintu ganda kayu mahoni berlapis emas di ujung seberang ballroom terbuka lebar oleh dua petugas berseragam. Kebisingan di dalam ruangan besar itu mendadak surut, digantikan oleh bisik-bisik tertahan yang menjalar seperti virus di antara para tamu.

Rhea Oceane Ivelle telah tiba.

Wanita itu melangkah masuk dengan elegansi yang nyaris tidak manusiawi. Rhea mengenakan gaun malam haute couture berbahan sutra sutra hitam pekat yang melekat sempurna pada lekuk tubuhnya, dengan belahan setinggi paha yang memamerkan kaki jenjangnya di atas stiletto berujung lancip. Rambut gelapnya yang panjang dibiarkan tergerai indah, membingkai wajah cantiknya yang berhias poni samping ikonik dan lipstik merah darah yang menyala. Di pergelangan tangannya, jam tangan Cartier Baignoire emas mawar berkilau mewah, menegaskan statusnya yang tak tersentuh.

Di sisi kirinya, Elena Ruby Miller berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan aura sosialita papan atas yang mengendalikan pandangan media, sementara Mia Natasha Quinn mengikuti satu langkah di belakang dengan tatapan waspada yang tajam.

"Lihat itu," gumam Raymond, matanya menyipit menatap kedatangan Rhea. "Putri pembangkang Oceane Group benar-benar datang memenuhi undanganmu, Jayden. Dan dia membawa seluruh kekuatannya."

Jayden tidak menjawab. Matanya terkunci pada sosok Rhea yang kini berjalan membelah kerumunan tamu. Orang-orang secara refleks memberi jalan untuk wanita itu, seolah-olah ia memancarkan radiasi kekuasaan yang memaksa semua orang tunduk. Ketegangan di dalam ballroom mendadak naik ke tingkat yang berbahaya. Di mata Jayden, Rhea tidak terlihat seperti ancaman; wanita itu terlihat seperti candu yang dikemas dalam bentuk bahaya paling indah.

Rhea menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan tempat Jayden berdiri. Sepasang netra mereka bertemu di udara—dingin, tajam, dan sarat akan tumpukan dendam masa lalu yang belum terselesaikan.

"Tuan Allister," ujar Rhea, memecah jarak di antara mereka dengan suara yang rendah, merdu, namun mendinginkan atmosfer di sekitar.

Jayden melangkah turun dari area tinggi, mendekati Rhea hingga jarak di antara mereka terkikis menjadi begitu intim. Aroma parfum mawar hitam yang sensual dari tubuh Rhea menyerang indra penciumannya, berpadu dengan aroma wiski dan tembakau mahal dari tubuh Jayden. Ketegangan seksual yang intens bercampur dengan benturan ego kekuasaan yang pekat seketika menyelimuti mereka berdua.

"Nona Ivelle," sahut Jayden, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tidak mencapai matanya yang sedingin es. "Aku harus mengakui, kau terlihat jauh lebih mematikan secara langsung dibandingkan dengan foto-foto yang dikumpulkan tim keamanan dari Paris."

Rhea menaikkan sebelah alisnya dengan keangkuhan yang mutlak. "Dan kau terlihat jauh lebih paranoid secara langsung, Jayden. Mengirim pesan ancaman ke jet pribadiku sebelum aku mendarat? Aku tidak tahu jika seorang CEO Allister Empire memiliki begitu banyak waktu luang hanya untuk mencemaskan kedatanganku."

Mendengar konfrontasi langsung itu, Raymond di samping Jayden sempat menegang sesaat, namun ia berhasil mempertahankan ekspresi tenangnya. Elena di sisi lain hanya tersenyum tipis, menikmati bagaimana Rhea dengan mudah membalikkan provokasi Jayden di depan publik.

"Itu bukan ancaman, Rhea. Itu adalah bentuk keramahan," balas Jayden, suaranya merendah menjadi bisikan bariton yang berbahaya saat ia melangkah satu senti lebih dekat, menundukkan kepalanya sedikit agar suaranya hanya terdengar oleh wanita di hadapannya. "Aku hanya memastikan bahwa kau tahu persis ke duniaku yang mana kau sedang melangkah masuk."

"Dunia mu?" Rhea terkekeh rendah, sebuah tawa sarkastik yang terdengar sangat elegan. "Gedung ini mungkin milikmu, Jayden. Tapi bursa saham di luar sana tidak peduli dengan namamu jika aku memutuskan untuk menarik seluruh jalur distribusi material Allister di Eropa besok pagi."

Jayden tidak terprovokasi. Ia justru menatap bibir merah Rhea dengan pandangan yang sarat akan kepemilikan yang gelap. "Kau bisa mencobanya, Nona Ivelle. Tapi kita berdua tahu, alasanmu kembali ke Seoul bukan hanya untuk bermain dengan kain-kain mahalmu di Ivelle Atelier. Kau kembali untuk Oceane Group."

Rhea terdiam sesaat, garis rahangnya yang tegas mengetat di balik senyumannya.

"Raymond, Elena, Mia," Jayden menyebutkan nama-nama lingkaran dalam mereka dengan nada perintah yang halus namun mutlak. "Tinggalkan kami. Ada beberapa urusan kemitraan strategis yang harus aku bicarakan secara pribadi dengan Nona Ivelle."

Elena menatap Rhea, menunggu kode dari bosnya. Rhea memberikan anggukan kecil yang tersamar. "Tinggalkan aku, Elena. Mia, pastikan tim hukum kita tetap siaga."

Setelah para pendamping mereka menjauh dan membaur dengan kerumunan tamu yang terus mengawasi dari jarak aman, Jayden memutar tubuhnya dan memberi isyarat ke arah balkon privat ballroom yang sepi dan remang-remang, menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota Seoul.

Rhea melangkah mengikuti Jayden menuju balkon, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajah dan rambutnya. Di area privat ini, kebisingan ballroom meredup, menyisakan ketegangan murni di antara dua pewaris takhta bisnis terbesar tersebut.

"Katakan apa maumu, Jayden. Aku tidak punya waktu sepanjang malam untuk mendengarkan teka-tekimu," ujar Rhea sembari bersandar pada pagar pembatas balkon, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pose menantang.

Jayden berdiri di sampingnya, meletakkan gelas wiskinya di atas meja marmer kecil di sudut balkon. Ia menatap Rhea dari samping, mengagumi bagaimana wanita ini mempertahankan keangkuhannya di bawah tekanan auranya.

"Aku menawarkan sebuah kesepakatan, Rhea," kata Jayden, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan intrik yang menjebak. "Kemitraan antara Allister Empire dan Oceane Group untuk proyek energi baru ini. Aku tahu kau sedang mengumpulkan saham rahasia dari para direksi tuamu untuk melakukan kudeta hukum minggu depan. Total sahammu saat ini ada di angka tiga puluh empat persen."

Rhea terbelalak sesaat. Matanya yang tajam menatap Jayden dengan kilatan amarah dan keterkejutan yang nyata. "Bagaimana kau bisa—"

"Aku tahu segalanya tentangmu, Rhea," potong Jayden dingin.

Di dalam benaknya, Jayden tahu informasi super rahasia ini bukan berasal dari Bryan di Seoul, melainkan dari laporan enkripsi militer yang dikirim oleh Fabian dan Rosie dari pangkalan siber rahasia mereka di Roma beberapa jam lalu. Melalui penyadapan jalur komunikasi Elena yang dilakukan oleh Rosie, Jayden memegang kartu as Rhea sebelum wanita itu sempat menurunkannya ke atas meja. Keberadaan Fabian dan Rosie di Italia adalah hantu yang tidak akan pernah bisa dideteksi oleh tim hukum maupun tim siber terbaik milik Rhea sekalipun.

"Dua persen," lanjut Jayden, suaranya merendah namun menekan. "Kau butuh dua persen lagi untuk memegang kendali suara mutlak atas Oceane Group dan menendang keluar para rubah tua yang kau benci itu. Dan secara kebetulan, Allister Empire memegang sisa dua persen saham mengambang tersebut melalui perusahaan cangkang kita di Swiss."

Rhea mencengkeram besi pagar balkon, napasnya agak memburu saat menyadari betapa dalam Jayden telah menyusup ke dalam strateginya. "Jadi kau ingin bernegosiasi menggunakan saham itu? Apa maumu? Kau ingin aku menyerahkan jalur distribusi Eropa sebagai gantinya?"

Jayden melangkah mendekat, mengurung tubuh Rhea di antara kedua lengannya yang bertumpu pada pagar balkon. Jarak mereka begitu dekat hingga Rhea bisa merasakan kehangatan napas Jayden di kulit lehernya. Ketegangan seksual di antara mereka meledak dalam keheningan yang mencekam.

"Jalur distribusi Eropa terlalu kecil untuk standar kesepakatanku, Rhea," bisik Jayden, matanya menatap lurus ke dalam netra Rhea dengan intensitas yang mengerikan. "Aku menginginkan kepatuhanmu mutlak di dalam jaringan The Syndicate. Aku ingin Oceane Group berjalan di bawah garis strategiku."

Rhea mendongak, menantang tatapan gelap Jayden tanpa rasa takut, meskipun jantungnya berdegup kencang akibat kedekatan fisik mereka yang intimidatif. "Kau gila. Aku kembali untuk menghancurkan Allister Empire, Jayden. Perusahaanmu membiayai konspirasi yang membunuh orang tuaku lima tahun lalu! Kau pikir aku akan tunduk pada putra dari pembunuh keluargaku?"

Mendengar tuduhan itu, mata Jayden berkilat berbahaya. Cengkeramannya pada pagar besi mengencang. "Jaga bicaramu, Rhea. Orang tuaku juga mati dalam insiden yang sama. Jika ada yang harus bertanggung jawab atas darah yang tumpah lima tahun lalu, itu adalah musuh yang sesungguhnya yang sedang duduk manis menonton kita saling menghancurkan saat ini."

Rhea terdiam, mencoba mencari kebohongan di dalam mata gelap Jayden, namun ia hanya menemukan kegelapan dan luka yang sama dalamnya dengan apa yang ia miliki.

Jayden menjauhkan tubuhnya sedikit, memberikan ruang yang dingin di antara mereka kembali. Ia menatap Rhea dengan keangkuhan seorang kaisar yang sedang memberikan titah terakhir.

"Pilihanmu sangat sederhana, Rhea. Bergabunglah denganku, ambil alih Oceane Group dengan dua persen saham dariku, dan kita cari tahu bersama siapa dalang di balik kematian orang tua kita di dalam The Syndicate," ujar Jayden, suaranya bergetar rendah penuh kekuasaan yang mutlak.

Ia menjeda kalimatnya, menatap Rhea dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan dominan yang menjatuhkan harga diri.

"Kau bisa berdiri di sisiku, atau berlutut di bawahku. Tentukan pilihanmu sebelum gala ini berakhir, Nona Ivelle."

Rhea menatap Jayden dengan napas yang tertahan. Kata-kata pria itu terdengar seperti sebuah kemitraan, namun setiap silabelnya menghembuskan ancaman mati yang nyata. Di dunia mereka yang penuh dengan racun kekuasaan, Rhea tahu bahwa menolak Jayden saat ini berarti menunda balas dendamnya, sementara menerimanya berarti membiarkan dirinya masuk ke dalam sangkar emas yang dikendalikan oleh pria paling berbahaya di Seoul.

Rhea menegakkan tubuhnya, merapikan gaun sutra hitamnya dengan gerakan yang luar biasa elegan. Ia menatap Jayden untuk terakhir kalinya malam itu dengan senyuman penuh racun yang sangat memikat.

"Aku tidak pernah berbakat dalam hal berlutut, Jayden Allister," desis Rhea rendah, melangkah melewati tubuh tegap Jayden untuk kembali ke dalam ballroom. "Tapi jika aku harus berdiri di sisimu... pastikan kau memegang mahkotamu erat-erat. Karena aku bisa saja merebutnya saat kau sedang lengah tidur."

Jayden tidak berbalik untuk melihat kepergian Rhea. Ia hanya meraih kembali gelas wiskinya, menyesap cairan pahit itu dengan kepuasan yang dingin yang membakar tenggorokan. Permainan catur ini telah resmi dimulai, dan racun yang mereka racik bersama kini terasa jauh lebih adiktif dari yang pernah ia bayangkan. Kesepian di puncaknya malam itu mendadak terasa sedikit lebih hangat, karena ia tahu, badai yang ia tunggu telah memilih untuk berjalan bersamanya menuju neraka yang megah.





****



Halo dan terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk membaca sampel dari The Allister Verdict!

Kisah ini membawa vibes dark corporate romance dan ketegangan psikologis yang cukup intens di dalam jaringan The Syndicate. Semoga prolog dan free chapter ini berhasil membawa kalian masuk ke dalam dunia elit Jayden Allister dan Rhea Ivelle.

🍷 Ingin mengungkap seluruh rahasia dan membaca cerita lengkapnya?
Kamu bisa mendapatkan versi Premium E-book (Original Universe) berformat PDF dengan mengakses tautan resmi di bawah ini:

πŸ‘‰ Dapatkan E-Book Lengkap The Allister Verdict di Sini

Selamat menikmati racun kalian, dan jangan ragu untuk meninggalkan kesan atau ulasan singkatmu di kolom komentar di bawah ini, ya! πŸ–€✨

πŸ‘‰ Mau baca versi AU (alternate universe) story! bisa klik disini!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROLOG—BAB 1 (ESPRESSO & SECRET TEARS)

[SAMPEL E-BOOK] Putra Dalem Tanpa Gelar — Prolog & Bab Gratis πŸ›️

[SNEAK PEEK] Prolog & Bab 1 — THE MUSE'S CRIME