Postingan

BACA GRATIS: Prolog + Free Chapter | The Allister Verdict 🍷

  PROLOG Seoul, 02:00 AM. Hujan mengguyur kaca-kaca tebal di lantai tertinggi Allister Tower. Di dalam ruangan bernuansa monokrom itu, keheningan terasa mencekam. Jayden Christian Allister berdiri tegak, memutar gelas kristal berisi minuman keras di tangannya. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah gemerlap lampu kota Seoul. "Orangtua ku mati di atas takhta ini, Raymond," suara Jayden bergetar rendah, nyaris menyerupai bisikan badai. "Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merebut apa yang tersisa dari darah mereka. Termasuk seorang wanita dari Oceane Group." Di distrik yang berbeda, di dalam studio megah yang hanya diterangi lampu temaram, Rhea Oceane Ivelle menarik napas dalam-dalam. Jemarinya yang dihiasi cat kuku merah darah mengetuk meja marmer, tepat di atas selembar foto buram wajah Jayden. "Kau pikir kau adalah hakim di kota ini, Jayden?" Rhea tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh racun yang mematikan. "Kau salah. Aku kembali bukan un...

[SAMPEL E-BOOK] Putra Dalem Tanpa Gelar — Prolog & Bab Gratis 🏛️

  PROLOG "Gelar itu bukan hadiah, Danes. Itu adalah tanggung jawab yang mengalir di setiap tetes darahmu." Suara berat sang Ayah masih terngiang, beradu dengan denting es batu dalam gelas kristal di tangan Daneswara. Di lantai 25 gedung Pratama Heritage, malam itu di Yogyakarta terlihat seperti hamparan permadani lampu yang tenang. Namun bagi Danes, kota ini adalah labirin aturan yang ingin ia bakar habis. Ia merapikan dasi sutranya di depan cermin. Tidak ada lagi beskap sutra. Tidak ada lagi keris yang memberatkan pinggang. Hari ini, ia adalah Daneswara—sang CEO. Pria yang percaya bahwa identitas adalah sesuatu yang bisa dibentuk dengan kerja keras, bukan sekadar warisan garis keturunan. Namun, sore itu di pinggiran sawah yang basah karena sisa hujan, segalanya berubah. Di sebuah warung sederhana dengan lampu kuning temaram, Daneswara bertemu dengan mata itu. Mata milik Sekar, gadis yang sedang lincah mengulek bumbu kacang sambil tertawa bersama ibunya. Aroma kencur dan kaca...

[SNEAK PEEK] Prolog & Bab 1 — THE MUSE'S CRIME

  PROLOG Lampu flash kamera menyambar bertubi-tubi, menciptakan ilusi bintang jatuh di dalam ruangan ballroom hotel berbintang lima itu. Rachel berdiri di tengah, dagunya terangkat elegan, mengenakan gaun sutra hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Ia adalah definisi dari "tak tersentuh". Namun, fokusnya terganggu saat pintu besar di ujung aula terbuka. Seorang pria melangkah masuk. Jaket kulit hitamnya tampak kontras di tengah setelan tuksedo mahal para tamu undangan. Beberapa tindik di telinganya berkilau terkena cahaya lampu kristal. Itu Arsen. Sosok yang namanya hanya berani dibisikkan dalam ketakutan oleh orang-orang di ruangan ini. Arsen berjalan melewati kerumunan tanpa menoleh pada siapa pun, hingga langkahnya berhenti tepat di depan Rachel. Atmosfer di ruangan itu seketika mendingin. Ketegangan terasa nyata, seolah-olah oksigen telah dicuri dari udara. Arsen mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu di telinga Rachel yang membuat bulu kuduk sang model meremang...

PROLOG—BAB 1 (ESPRESSO & SECRET TEARS)

  PROLOG Seoul, 5 Tahun Lalu. Hujan deras mengguyur cafe kecil tempat aroma espresso biasanya menenangkan, namun kini terasa mencekik. Jayden menggenggam undangan emas dengan nama Celia Olive Morgan di samping namanya. "Elisa, dengarkan aku... ini hanya sementara," bisik Jayden parau. Elisa tidak membantah. Ia hanya menyajikan espresso terakhir, tangannya gemetar menyentuh perutnya yang masih rata secara impulsif—tempat rahasia kecil baru saja tumbuh. "Kasta kita tidak pernah bertemu, Jayden," ucapnya pelan. Esoknya, kafe itu kosong. Elisa hilang, menyisakan surat singkat: "Hiduplah sebagai Winston yang hebat." Di dalam pesawat menuju London, Elisa menangis dalam diam sambil memeluk hasil tes kehamilan positif miliknya. Chapter 1: The Fog of London Kabut tebal merayap di sepanjang Sungai Thames, menyelimuti kota London dalam dekapan abu-abu yang dingin dan lembab. Bagi sebagian orang, pemandangan ini tampak puitis, namun bagi Jayden Rayne Winston , k...