[SAMPEL E-BOOK] Putra Dalem Tanpa Gelar — Prolog & Bab Gratis π️
PROLOG
"Gelar itu bukan hadiah, Danes. Itu adalah tanggung jawab yang mengalir di setiap tetes darahmu."
Suara berat sang Ayah masih terngiang, beradu dengan denting es batu dalam gelas kristal di tangan Daneswara. Di lantai 25 gedung Pratama Heritage, malam itu di Yogyakarta terlihat seperti hamparan permadani lampu yang tenang. Namun bagi Danes, kota ini adalah labirin aturan yang ingin ia bakar habis.
Ia merapikan dasi sutranya di depan cermin. Tidak ada lagi beskap sutra. Tidak ada lagi keris yang memberatkan pinggang. Hari ini, ia adalah Daneswara—sang CEO. Pria yang percaya bahwa identitas adalah sesuatu yang bisa dibentuk dengan kerja keras, bukan sekadar warisan garis keturunan.
Namun, sore itu di pinggiran sawah yang basah karena sisa hujan, segalanya berubah.
Di sebuah warung sederhana dengan lampu kuning temaram, Daneswara bertemu dengan mata itu. Mata milik Sekar, gadis yang sedang lincah mengulek bumbu kacang sambil tertawa bersama ibunya. Aroma kencur dan kacang goreng menyerang indra penciumannya, terasa jauh lebih jujur daripada wangi parfum perancis yang biasa ia hirup di ruang rapat.
"Mas mau pesan? Maaf ya, kursinya cuma kursi kayu, takutnya jas Mas yang bagus itu nanti kotor," ucap Sekar tanpa tahu siapa pria di depannya.
Daneswara terdiam. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, setelan jas custom-made yang ia banggakan terasa terlalu sesak. Di depan gadis penjual pecel ini, ia tidak merasa seperti CEO hebat. Ia merasa seperti seorang putra yang baru saja menemukan jalan pulang, namun tidak berani mengetuk pintu.
BAB GRATIS — NEGOSIASI YANG GAGAL
Sekar yang sedang sibuk memilah sayur kol dan bayam di depan warung, hanya melirik sekilas tanpa menghentikan kegiatannya. Ia tahu siapa yang datang. Bau parfum wood-scent yang mahal itu sudah terlanjur ia hafal.
Pintu mobil terbuka. Daneswara melangkah keluar. Kali ini ia tidak basah kuyup seperti kemarin. Ia mengenakan setelan jas navy yang dipotong sempurna, sepatu pantofel kulit yang mengkilap seperti cermin, dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Penampilannya adalah definisi mutlak dari kekuasaan kota.
Danes melangkah mendekati warung, langkahnya hati-hati agar tidak mengotori sepatunya dengan tanah basah.
"Selamat pagi, Sekar," sapa Danes. Suaranya rendah dan penuh percaya diri.
Sekar tidak mendongak. Ia justru mengambil baskom berisi air cucian sayur yang sudah keruh dan mulai membilas bayam dengan suara gemericik yang sengaja dikeraskan.
"Nggih, selamat pagi. Badhe napa malih mriki? Ban mobilipun bocor malih?" (Iya, selamat pagi. Mau apa lagi ke sini? Ban mobilnya bocor lagi?) tanya Sekar dengan nada datar.
Danes menarik napas panjang, mencoba bersabar. Ia menarik kursi kayu di depan Sekar tanpa diminta. "Saya kesini bukan sebagai orang asing yang tersesat. Saya datang sebagai CEO Pratama Heritage Group."
Gerakan tangan Sekar terhenti. Ia perlahan mendongak, menatap mata Danes yang kini sudah melepas kacamata hitamnya. Tatapan Sekar yang tadinya santai berubah menjadi sedingin es.
"Oalah... dadi niki 'Gusti' sing jarene ajeng mundhut sawah dusun mriki?" (Oalah... jadi ini 'Gusti' yang katanya mau membeli sawah desa sini?) Sekar meletakkan baskomnya dengan hentakan keras. "Walah, kulo mboten nyongko. Ternyata sing nggadhahi perusahaan niku tiyang sing wingi mboten saged bayar pecel." (Wah, saya tidak menyangka. Ternyata yang punya perusahaan itu orang yang kemarin tidak bisa bayar pecel.)
Wajah Danes sedikit memerah karena sindiran itu, tapi ia tetap menjaga posturnya. Ia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam dari tasnya dan meletakkannya di atas meja kayu yang sedikit berminyak.
"Saya kesini tidak untuk membahas pecel, Sekar. Saya kesini untuk menawarkan masa depan," Danes membuka map itu, memperlihatkan dokumen resmi dengan logo emas. "Ini adalah penawaran resmi untuk lahan sawah di sebelah selatan, termasuk lahan milik keluarga kamu. Angkanya tiga kali lipat dari harga pasar. Kalian bisa beli rumah mewah di kota dengan uang ini."
Sekar tertawa. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa hambar yang menyakitkan telinga.
"Masa depan niku napa, Mas? Gedung-gedung dhuwur sing nutupi srengenge? Beton sing nggawe sawah mboten saget ambekan?" (Masa depan itu apa, Mas? Gedung-gedung tinggi yang menutupi matahari? Beton yang membuat sawah tidak bisa bernapas?) Sekar berdiri, melipat tangannya di dada.
"Sekar, dengar dulu. Desa ini butuh kemajuan. Pariwisata yang saya bangun akan menyerap tenaga kerja. Warga di sini tidak perlu lagi berkubang di lumpur setiap hari," bujuk Danes, mencoba menggunakan logika bisnisnya.
"Lumpur niki sing nggawe kulo saged sekolah, Mas! Lumpur niki sing maringi bapak ibu kulo panguripan!" (Lumpur ini yang membuat saya bisa sekolah, Mas! Lumpur ini yang memberi bapak ibu saya kehidupan!) suara Sekar mulai meninggi. "Mas Danes niku namung ngerti angka. Mas mboten ngerti rasane tresno kaleh tanah." (Mas Danes itu hanya tahu angka. Mas tidak tahu rasanya cinta dengan tanah.)
Danes ikut berdiri, ia merasa negosiasinya mulai buntu. "Cinta tidak akan memberi kalian makan di masa depan saat tanah ini sudah tidak produktif. Saya menawarkan solusi sebelum kalian terlambat."
"Solusi napa rampok?" (Solusi apa rampok?) Sekar menatap Danes tepat di manik matanya. "Pratama Heritage jarene nglestarekake budaya. Budaya napa sing nggusur rakyate dewe? Meniko mboten budaya, meniko namung rakus!" (Pratama Heritage katanya melestarikan budaya. Budaya apa yang menggusur rakyatnya sendiri? Itu bukan budaya, itu cuma rakus!)
Daneswara menghela nafas kasar. Ia merasa martabatnya sebagai pimpinan perusahaan besar sedang diinjak-injak oleh seorang gadis desa. "Saya sudah berusaha sopan, Sekar. Tapi keputusan ini sudah final di tingkat direksi. Lahan ini akan tetap diambil alih. Saya kesini hanya ingin memastikan keluarga kamu mendapatkan bagian yang adil secara kekeluargaan."
"Kekeluargaan?" Sekar tersenyum sinis. Matanya melirik ke arah sepatu pantofel Danes yang sangat bersih dan mahal.
Detik berikutnya, tanpa aba-aba, Sekar mengangkat baskom besar berisi air sisa cucian sayur yang penuh dengan potongan akar, tanah cair, dan sisa ulekan cabai yang tadi ikut terbilas.
BYURRR!
Daneswara mematung. Air keruh itu menyiram tepat di atas sepatu mahal dan bagian bawah celana kainnya. Bau amis sayur dan aroma kencur yang menyengat langsung menyeruak.
"SEKAR!" Danes berteriak, suaranya menggelegar sampai burung-burung di pohon sawo terbang ketakutan. Ia melihat sepatunya yang berharga puluhan juta kini berlumuran lumpur sayur.
"Oalah, nuwun sewu Mas Danes. Tangan kulo nggadhahi karepe dewe, kados surat penggusuran sampean sing nggadhahi karep dewe niku," (Oalah, mohon maaf Mas Danes. Tangan saya punya keinginan sendiri, seperti surat penggusuran kamu yang punya keinginan sendiri itu,) ucap Sekar dengan wajah tanpa dosa, meski matanya berkilat penuh kemarahan.
"Kowe ngerti regane sepatu iki piro?!" (Kamu tahu harga sepatu ini berapa?!) bentak Danes dengan bahasa Jawa yang kasar karena emosinya sudah di ubun-ubun.
"Mboten ngerti, lan mboten pengen ngerti. Sing kulo ngerti, regane sepatu niku mboten saged nuku harga diri warga dusun mriki. Sampun Mas, mending Mas kondur. Sepatu niku mboten pantes nindak neng tanah dusun niki," (Tidak tahu, dan tidak ingin tahu. Yang saya tahu, harga sepatu itu tidak bisa membeli harga diri warga desa sini. Sudah Mas, mending Mas pulang. Sepatu itu tidak pantas menginjak tanah desa ini,) Sekar menunjuk ke arah jalan raya dengan dagunya.
Daneswara gemetar karena amarah yang tertahan. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuyat. Belum pernah ada orang yang berani memperlakukannya seperti ini. Di kantor, ia adalah raja. Di Keraton, ia adalah putra mahkota yang disegani. Tapi di warung pecel ini, ia hanyalah seorang pria dengan sepatu berlumpur.
Danes mengambil mapnya yang sedikit basah, lalu menatap Sekar untuk terakhir kalinya pagi itu. Tatapannya bukan lagi tatapan negosiator, melainkan tatapan seorang predator yang merasa tertantang.
"Kamu pikir ini sudah selesai, Sekar? Kamu baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu," bisik Danes dengan nada yang sangat rendah dan mengancam.
"Kulo mboten wedi kaleh sampean, 'Gusti' Daneswara," (Saya tidak takut dengan kamu, 'Gusti' Daneswara,) jawab Sekar mantap.
Danes membalikkan badan, berjalan cepat menuju mobilnya dengan langkah kaki yang berat karena air di dalam sepatunya. Ia masuk ke mobil dan membanting pintu dengan keras.
Mobil itu melesat pergi, meninggalkan debu yang berterbangan. Sekar berdiri diam, nafasnya memburu. Tangannya yang memegang baskom kosong gemetar hebat. Ia tahu, mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Daneswara bukan orang yang mudah melepaskan apa yang ia inginkan.
Halo dan terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cuplikan Putra Dalem Tanpa Gelar!
Kisah ini menyajikan perpaduan antara kehidupan korporat modern dan hangatnya tradisi budaya yang penuh dilema. Semoga prolog dan bab gratis ini bisa memberikan gambaran awal dari perjalanan emosional para karakternya.
π Ingin membaca cerita selengkapnya sampai tamat? Kalian bisa mendapatkan versi E-Book Premium berformat PDF resolusi tinggi dengan mengeklik tautan di bawah ini:
π
Jangan lupa untuk meninggalkan kesan atau tanggapan kalian di kolom komentar di bawah, ya. Dukungan dan apresiasi kalian sangat berarti bagi keberlanjutan karya-karyaku! ☕✨ π Mau kenal Jovanka, lebih dekat—klik disini!
Komentar
Posting Komentar