[SNEAK PEEK] Prolog & Bab 1 — THE MUSE'S CRIME
PROLOG
Lampu flash kamera menyambar bertubi-tubi, menciptakan ilusi bintang jatuh di dalam ruangan ballroom hotel berbintang lima itu. Rachel berdiri di tengah, dagunya terangkat elegan, mengenakan gaun sutra hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Ia adalah definisi dari "tak tersentuh".
Namun, fokusnya terganggu saat pintu besar di ujung aula terbuka.
Seorang pria melangkah masuk. Jaket kulit hitamnya tampak kontras di tengah setelan tuksedo mahal para tamu undangan. Beberapa tindik di telinganya berkilau terkena cahaya lampu kristal. Itu Arsen. Sosok yang namanya hanya berani dibisikkan dalam ketakutan oleh orang-orang di ruangan ini.
Arsen berjalan melewati kerumunan tanpa menoleh pada siapa pun, hingga langkahnya berhenti tepat di depan Rachel. Atmosfer di ruangan itu seketika mendingin. Ketegangan terasa nyata, seolah-olah oksigen telah dicuri dari udara.
Arsen mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu di telinga Rachel yang membuat bulu kuduk sang model meremang.
"Kau terlihat cantik di bawah lampu ini, Rachel," suara Arsen berat dan serak, namun penuh dengan kepemilikan yang berbahaya. "Tapi kau tahu kau jauh lebih cantik saat bersembunyi di kegelapan bersamaku."
Rachel tahu, melangkah pergi bersama pria ini berarti mengakhiri karirnya, mengkhianati keluarganya, dan mungkin... mempertaruhkan nyawanya. Namun, saat tangan Arsen yang kasar karena luka perkelahian menggenggam jemarinya dengan posesif, Rachel menyadari satu hal.
Menjadi muse bagi pria normal adalah sebuah pujian. Tapi menjadi muse bagi seorang kriminal... adalah sebuah takdir yang mematikan.
CHAPTER 1: THE GOLDEN CAGE
Cahaya lampu strobe putih menyambar-nyambar di atas runway yang terbuat dari kaca hitam pekat, menciptakan ilusi kilat di tengah kegelapan malam Seoul. Atmosfer di dalam gedung Dongdaemun Design Plaza (DDP) malam itu terasa begitu berat oleh aroma parfum desainer papan atas, hairspray, dan ambisi yang meluap-luap. Ini adalah malam puncak Seoul Fashion Week, sebuah altar bagi para pemuja estetika, dan Olivia Rachel Yasmine Louis adalah dewi yang mereka sembah.
Rachel berdiri di balik tirai beludru hitam, memejamkan matanya sejenak. Ia bisa mendengar gumaman ribuan tamu undangan di luar sana—para editor majalah internasional, selebritas, dan konglomerat yang haus akan tontonan. Di telinganya, earpiece berdenging kecil, mengirimkan instruksi teknis dari show director. Namun, suara yang paling dominan di kepalanya bukanlah instruksi itu, melainkan suara dingin ayahnya yang ia dengar beberapa jam lalu.
"Jangan buat satupun kesalahan, Rachel. Ingat, wajahmu adalah harga diri keluarga Louis. Jika kau gagal malam ini, kau tahu konsekuensinya."
Rachel menarik napas panjang, membiarkan udara dingin yang disaring oleh pendingin ruangan memenuhi paru-parunya. Gaun haute couture berbahan sutra organza yang ia kenakan terasa seperti baju zirah yang mencekik. Berat gaun itu mencapai lima kilogram, belum lagi kerangka korset yang membuat tulang rusuknya terasa bergeser. Namun, di hadapan publik, ia harus terlihat seringan bulu. Ia harus menjadi Muse yang sempurna.
"Rachel, you’re up. Three, two, one... go!"
Rachel melangkah keluar. Begitu kakinya menyentuh permukaan kaca runway, kepribadiannya berubah. Bahunya tegak, dagunya sedikit terangkat, dan matanya—mata kucing yang tajam itu—menatap lurus ke depan dengan intensitas yang bisa menghentikan detak jantung siapapun. Ia tidak hanya berjalan; ia mendominasi ruang. Setiap ayunan langkahnya adalah presisi yang telah dilatih selama ribuan jam.
Flash kamera meledak seperti kembang api yang tak henti-hentinya menyilaukan pandangan. Rachel melihat barisan depan—front row—di mana ayahnya, William Hans Louis, duduk dengan pose yang sangat berwibawa. Pria itu tidak tersenyum. Ia hanya menatap Rachel dengan tatapan menilai, seolah-olah putrinya hanyalah sebuah aset properti yang sedang dipamerkan nilainya di pasar saham. Di samping ayahnya, kursi-kursi diisi oleh orang-orang berpakaian mahal yang hanya peduli pada berapa banyak angka di balik label harga pakaian yang Rachel kenakan.
Rachel merasakan kehampaan yang luar biasa merayapi dadanya. Di puncak karier yang dipuja sejuta umat ini, ia merasa seperti seekor burung yang dipenjara dalam sangkar emas. Semakin berkilau sangkarnya, semakin menyesakkan udaranya. Ia adalah pusat perhatian dunia, namun tak seorang pun di ruangan ini benar-benar melihatnya sebagai manusia. Mereka hanya melihat "The Muse", sebuah objek seni yang tidak diizinkan memiliki emosi.
Ia berputar di ujung runway, memberikan pose ikonik yang akan menghiasi halaman depan majalah Vogue keesokan harinya. Saat ia mulai berjalan kembali ke arah belakang panggung, matanya tanpa sengaja memindai kerumunan di sisi kiri—area gelap yang sedikit menjauh dari sorot lampu utama.
Langkah Rachel hampir saja goyah.
Di sana, di antara barisan tamu yang mengenakan setelan tuksedo rapi dan gaun koktail yang sopan, berdiri seorang pria yang tampak sangat tidak pada tempatnya. Pria itu bersandar pada pilar beton dengan gaya yang sangat santai, hampir bersifat melecehkan aturan formalitas ruangan tersebut. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang tampak kasar dan sudah sering dipakai, dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura pemberontakan yang pekat.
Cahaya lampu runway yang berputar sesaat menerangi wajah pria itu.
Jantung Rachel berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti selamanya. Rahang yang tegas, rambut hitam yang sedikit berantakan, dan beberapa tindik perak yang berkilau di telinga kirinya. Namun, yang paling mematikan adalah matanya. Mata pria itu gelap, tajam, dan penuh dengan binar bahaya yang sangat ia kenali.
Arsen Lorenzo Maverrick.
Nama itu menghantam ingatan Rachel seperti badai. Arsen tidak menatap pakaian yang Rachel kenakan. Ia tidak menatap koreografi Rachel. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Rachel dengan tatapan posesif yang seolah berkata: Aku tahu siapa kau di balik topeng emas itu.
Tatapan mereka terkunci hanya dalam sepersekian detik, namun bagi Rachel, seluruh dunia di sekitarnya seketika menjadi sunyi. Suara musik techno yang berdentum keras menghilang. Suara jepretan kamera lenyap. Yang tersisa hanyalah tarikan magnetis yang sangat kuat dan mengerikan dari pria yang seharusnya tidak pernah ia temui lagi. Arsen adalah kepingan masa lalu yang gelap, putra dari keluarga Maverrick yang merupakan rival sekaligus sekutu bayangan ayahnya dalam bisnis-bisnis yang tak tersentuh hukum.
Rachel merasa dadanya bergemuruh. Arsen di sini, di Seoul, di tengah acara yang diawasi ketat oleh ayahnya. Ini bukan sekadar kunjungan kebetulan. Ini adalah sebuah proklamasi perang terhadap ketenangan hidup Rachel.
Rachel berhasil mencapai belakang panggung dengan sisa-sisa profesionalisme yang ia miliki. Begitu tirai beludru tertutup, ia segera bersandar pada dinding kayu, nafasnya tersengal-sengal. Tangannya gemetar hebat.
"Rachel? Ada apa? Kau terlihat pucat sekali," Vellora Atlanna Zavira, sahabatnya yang juga sesama model, menghampirinya dengan cemas. Vellora memegang bahu Rachel, mencoba menstabilkan sahabatnya itu.
Rachel tidak bisa menjawab. Pikirannya melayang kembali ke kerumunan tadi. Keberadaan Arsen di sini berarti satu hal: dinding sangkar emas yang dibangun ayahnya selama bertahun-tahun baru saja retak. Arsen adalah kekacauan, dan Rachel, entah mengapa, merasa sangat haus akan kekacauan itu.
Tiba-tiba, seorang asisten produksi berlari menghampiri mereka dengan wajah panik.
"Miss Rachel! Seseorang meninggalkan ini untuk Anda di meja rias pribadi Anda. Dia bilang ini sangat mendesak."
Asisten itu menyerahkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah darah. Rachel menerimanya dengan ragu. Dengan tangan yang masih gemetar, ia membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada perhiasan mahal atau pesan manis dari penggemar.
Hanya ada satu buah peluru perak yang diukir dengan inisial namanya: O.R.Y.L.
Di bawah peluru itu, terdapat secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang kasar namun tegas:
"Sangkarmu terlalu berkilau, Rachel. Mari kita lihat seberapa cepat ia terbakar malam ini."
Rachel mendongak, matanya menatap ke arah pintu keluar darurat di belakang panggung yang baru saja tertutup rapat. Ia tahu Arsen belum pergi. Pria itu baru saja memulai permainannya.
Komentar
Posting Komentar