PROLOG—BAB 1 (ESPRESSO & SECRET TEARS)

 
PROLOG
Seoul, 5 Tahun Lalu. Hujan deras mengguyur cafe kecil tempat aroma espresso biasanya menenangkan, namun kini terasa mencekik. Jayden menggenggam undangan emas dengan nama Celia Olive Morgan di samping namanya.

"Elisa, dengarkan aku... ini hanya sementara," bisik Jayden parau.

Elisa tidak membantah. Ia hanya menyajikan espresso terakhir, tangannya gemetar menyentuh perutnya yang masih rata secara impulsif—tempat rahasia kecil baru saja tumbuh.

"Kasta kita tidak pernah bertemu, Jayden," ucapnya pelan.

Esoknya, kafe itu kosong. Elisa hilang, menyisakan surat singkat: "Hiduplah sebagai Winston yang hebat." Di dalam pesawat menuju London, Elisa menangis dalam diam sambil memeluk hasil tes kehamilan positif miliknya.


Chapter 1: The Fog of London

Kabut tebal merayap di sepanjang Sungai Thames, menyelimuti kota London dalam dekapan abu-abu yang dingin dan lembab. Bagi sebagian orang, pemandangan ini tampak puitis, namun bagi Jayden Rayne Winston, kabut itu hanyalah manifestasi fisik dari kekosongan yang telah mengerak di hatinya selama lima tahun terakhir.

Jayden berdiri di balkon penthouse hotelnya di kawasan South Bank. Mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna arang yang dipotong sempurna, ia tampak seperti definisi sukses yang berjalan. Namun, sorot matanya yang tajam dan dingin hanya memantulkan kehampaan. Di tangan kanannya, ia menggenggam secangkir espresso panas. Tanpa gula. Tanpa kepingan kenangan manis yang tersisa. Baginya, rasa pahit yang membakar lidah adalah satu-satunya cara untuk merasa "hidup".

"Kau akan mati muda jika terus minum racun itu sebagai sarapan, Jay."

Suara bariton yang familiar itu memecah keheningan. Julian Alexander Fox, sahabat sekaligus COO kepercayaan Jayden, melangkah masuk ke balkon dengan langkah santai. Berbeda dengan Jayden yang kaku, Julian selalu membawa aura ketenangan yang hampir menyebalkan.

Jayden tidak menoleh. Ia menyesap espressonya, membiarkan cairan hitam itu mengalir di tenggorokannya. "Kopi ini adalah satu-satunya hal yang jujur di dunia ini, Julian. Pahitnya nyata. Tidak seperti janji-janji kosong keluarga Winston."

Julian menghela nafas panjang. Ia bersandar pada pagar balkon, menatap Jembatan London yang samar-samar terlihat di balik kabut. "Kita di sini untuk ekspansi J-Rayne Corp, Jay. Bukan untuk berkabung secara maraton. Ini London, kota peluang. Setidaknya cobalah untuk terlihat sedikit antusias."

"Aku antusias dengan angka, Julian. Bukan dengan suasananya," jawab Jayden datar. "Bagaimana jadwal hari ini?"

Julian membuka tablet digitalnya. "Rapat dengan dewan direksi calon mitra lokal pukul sepuluh. Makan siang dengan investor dari Dubai pukul satu. Dan sore harinya, aku sudah mengosongkan jadwal mu agar kau bisa... entahlah, mungkin melihat-lihat Big Ben? Kau sudah di sini seminggu dan hanya melihat dinding ruang rapat."

"Aku tidak butuh melihat jam raksasa untuk tahu bahwa waktuku sedang terbuang sia-sia," Jayden membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam ruangan yang hangat. "Siapkan mobil. Aku ingin tiba sepuluh menit lebih awal."


Perjalanan menuju kantor kemitraan di pusat kota terasa lambat. London sedang dalam kondisi tersibuknya, dan kemacetan diperparah oleh rintik hujan yang mulai turun. Di dalam mobil Bentley yang kedap suara, Jayden hanya menatap keluar jendela. Setiap sudut kota ini mengingatkannya pada sesuatu yang ia coba kubur dalam-dalam. Lima tahun lalu, ia mengira Seoul adalah penjaranya. Kini ia sadar, kemanapun ia pergi, ia membawa penjara itu di dalam dadanya.

"Jay?" panggil Julian.

"Hmm."

"Kau melamun lagi. Ini sudah ketiga kalinya dalam perjalanan ini. Apa kau memikirkan dia?"

Rahang Jayden mengeras. Nama itu tidak perlu diucapkan agar ia tahu siapa yang dimaksud. Elisa Ruby Miller. Wanita yang menghilang seperti uap tak lama setelah Jayden dipaksa bertunangan dengan Celia Olive Morgan. "Dia sudah mati bagi keluarga Winston, Julian. Dan bagiku, dia adalah bagian dari masa lalu yang gagal kulindungi."

"Kau tahu dia tidak mati, Jay. Kau hanya marah karena dia memilih pergi tanpa memberimu kesempatan untuk menjelaskan," sahut Julian tenang. "Tapi jujur saja, setelah lima tahun, apa kau tidak lelah membenci dirimu sendiri?"

"Kebencian adalah bahan bakar yang bagus untuk bisnis," jawab Jayden tajam, mengakhiri percakapan tersebut.

Rapat berlangsung melelahkan. Jayden menyerang setiap poin kontrak dengan ketelitian yang mematikan, membuat para direktur Inggris itu berkeringat dingin. Setelah berjam-jam berdebat, kesepakatan akhirnya tercapai. Namun, alih-alih merasa puas, Jayden justru merasa sesak. Ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa terlalu kecil.

"Aku butuh udara segar," ucap Jayden tiba-tiba saat mereka keluar dari ruang rapat.

"Mobil sudah menunggu di depan, Jay," kata Julian.

"Batalkan. Aku ingin berjalan kaki sebentar."

Julian mengerutkan kening. "Hujan baru saja reda, tapi udara sangat dingin. Kau yakin?"

"Aku butuh kopi yang benar-benar pahit, Julian. Espresso di hotel itu mulai terasa seperti air tawar. Aku akan kembali ke hotel satu jam lagi. Jangan ikuti aku."


Jayden berjalan menyusuri trotoar batu di kawasan yang sedikit menjauh dari pusat bisnis. Ia membiarkan langkah kakinya membawanya secara acak. Mantel wol panjangnya melambai tertiup angin musim gugur yang menusuk. Ia melewati deretan toko antik dan butik kecil, hingga akhirnya ia sampai di sebuah jalanan sempit yang tampak tenang dan tersembunyi dari hiruk-pikuk turis.

Aroma roti panggang yang manis tiba-tiba tercium, menembus dinginnya udara London. Aroma itu begitu familiar, membangkitkan memori tentang sebuah kafe kecil di Seoul yang kini telah rata dengan tanah. Jayden berhenti di depan sebuah toko dengan cat kayu berwarna merah marun yang hangat. Di atas pintunya, terdapat papan nama kayu yang diukir dengan rapi: "Ruby’s Bakery & Cafe".

Jantung Jayden berdegup tidak keruan. Ruby. Itu adalah nama tengah Elisa. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah kebetulan. Nama Ruby sangat umum di London. Namun, ada sesuatu yang menariknya untuk melangkah masuk. Sesuatu yang lebih kuat dari logika efisiennya.

Kring! 

Lonceng di atas pintu berdentang lembut saat ia mendorongnya masuk. Kehangatan langsung menerpanya, membawa aroma kayu manis, mentega, dan... espresso. Cafe itu kecil namun sangat nyaman, dengan pencahayaan kuning temaram dan musik jazz lembut yang mengalun di latar belakang.

Jayden melangkah menuju meja kasir. Ia menunduk, merapatkan mantelnya, mencoba mengatur nafasnya yang tiba-tiba berat.

"Selamat sore! Selamat datang di Ruby's. Anda ingin memesan apa?"

Suara itu.

Jayden membeku. Dunia seakan berhenti berputar. Suara lembut namun tegas itu adalah melodi yang selalu menghantuinya dalam mimpi setiap malam selama lima tahun terakhir. Ia perlahan mengangkat kepalanya.

Di balik meja kasir, seorang wanita dengan rambut cokelat panjang yang terikat rapi sedang menatapnya. Wanita itu mengenakan apron krem. Senyum ramah yang tadinya terpatri di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi syok yang luar biasa. Gelas plastik di tangannya hampir saja terjatuh.

"Elisa?" bisik Jayden, suaranya parau, nyaris tak terdengar.

Wanita itu—Elisa Ruby Miller—pucat pasi. Matanya yang indah bergetar, memancarkan kombinasi antara kerinduan yang mendalam dan ketakutan yang mencekam. Ia mundur satu langkah, tangannya secara impulsif meraba dadanya.

"Jayden..." suara Elisa bergetar.

Belum sempat Jayden mengucapkan sepatah kata pun, pintu kecil di samping meja kasir terbuka. Seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari keluar dengan tawa riang. Anak itu mengenakan sweater coklat, tangannya memegang sebuah buku gambar.

"Mommy! Lihat, Andrew sudah menggambar jembatan yang besar!" seru bocah itu dengan semangat.

Anak itu berhenti tepat di samping Elisa, lalu mendongak menatap Jayden. Jayden terpaku. Ia merasa seolah sedang menatap cermin masa kecilnya sendiri. Mata yang bulat, garis rahang yang tegas, bahkan cara bocah itu memiringkan kepalanya saat bingung—semuanya identik dengan dirinya.

Andrew menatap Jayden dengan rasa ingin tahu yang besar, lalu menoleh ke arah ibunya. "Mommy, siapa paman yang tampan ini? Kenapa wajahnya terlihat sedih?"

Elisa tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap Jayden dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya, sementara tangannya merangkul bahu Andrew dengan sangat protektif, seolah takut Jayden akan merebut dunianya dalam sekejap.

Jayden merasakan dunianya runtuh dan terbangun secara bersamaan. Espresso pahit yang ia cari tak lagi penting. Di depannya, berdiri rahasia terbesar yang pernah disembunyikan Elisa darinya.

"Elisa," suara Jayden kini lebih tegas, matanya tak lepas dari anak kecil itu. "Siapa dia?"

Elisa menarik Andrew lebih dekat ke belakang tubuhnya. Tangannya gemetar hebat, namun sorot matanya berubah menjadi barikade yang tak tertembus. Ketakutan lima tahun lalu kembali menghujamnya—bayangan keluarga Winston yang kejam kini berdiri tepat di depan matanya dalam wujud pria yang pernah ia cintai.

"Elisa, jawab aku!" Jayden melangkah maju, tangannya hendak meraih meja kasir, namun Elisa mundur lebih jauh. "Berapa usia anak ini?"

"Jangan mendekat!" Elisa setengah berteriak, suaranya pecah oleh histeria yang tertahan. Andrew yang merasakan ketegangan ibunya mulai mencengkeram apron Elisa dengan erat, wajah mungilnya berubah cemas.

"Wajahnya... dia sangat mirip denganku, Elisa. Kau tidak bisa menyangkalnya," Jayden terengah, dadanya sesak oleh gelombang emosi yang tak tertahankan. Penyesalan, kemarahan, dan harapan bercampur menjadi satu racun yang mematikan. "Kenapa kau pergi? Kenapa kau menyembunyikan dia dariku selama lima tahun?"

Elisa menatap Jayden dengan sorot mata yang penuh kebencian dan kepedihan yang mendalam. Ia teringat surat ancaman Celia, ia teringat bagaimana Jayden tak berdaya di bawah ketiak ayahnya lima tahun lalu. Baginya, Jayden bukan lagi tempat pulang, melainkan ancaman bagi nyawa Andrew.

"Kau salah orang, Tuan," ucap Elisa dengan nada dingin yang menusuk, meski air mata kini mengalir deras di pipinya. "Aku tidak mengenalmu. Kafe ini sudah tutup. Kumohon, keluar."

"Elisa, jangan berbohong! Aku tahu itu kau!" Jayden berteriak frustasi.

Elisa segera menarik Andrew ke belakang tubuhnya dengan wajah pucat pasi. Ia memeluk putranya dengan posesif, seolah-olah Jayden adalah monster yang siap memangsa kebahagiaan kecil yang ia bangun dengan darah dan air mata.

"Maaf, Tuan. Anda salah orang. Silakan pergi sekarang juga!"

Jayden terpaku di tempatnya berdiri, merasakan jantungnya hancur berkeping-keping saat melihat ketakutan di mata Andrew—putranya sendiri yang kini memandangnya sebagai orang asing yang berbahaya.

****
Halo! Selamat datang di Jovanka's Journal. Ini adalah ruang bagi karya-karya fiksiku. Terima kasih sudah membaca prolog ini! Jangan ragu untuk meninggalkan pesan atau kesan di kolom komentar, dan ikuti terus pembaruannya, ya.

Komentar

  1. Waah...dari prolog dan Chapter 1 nya aja udh bagus, dari bahasa dan pilihan katanya bisa di mengerti, penasaran dengan cerita lengkapnya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih buat supportnya, untuk cerita lengkapnya bisa klik tulisan biru di atas...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[SAMPEL E-BOOK] Putra Dalem Tanpa Gelar — Prolog & Bab Gratis 🏛️

[SNEAK PEEK] Prolog & Bab 1 — THE MUSE'S CRIME